Selasa, 03 Maret 2015

mengenal ayam pelung

Ayam Pelung
Ayam Pelung adalah galur ayam lokal asli dengan ukuran tubuh paling besar di Indonesia. Ayam ini berasal dari desa Bumi Kasih, Jambu Dipa, Songgom dan Tegal Lega, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Ayam Pelung dibudidayakan oleh masyarakat terutama untuk suara kokok pejantannya yang khas. Populasi ayam pelung pada tahun 1994 sekitar 5 – 6 ribu ekor dan di Jawa Barat diduga telah berkembang mencapai kurang lebih 30 ribu ekor pada tahun 2007 (Iskandar dan Susanti, 2007).
Pelung Merah Gambar 3. Pelung Merah.Sumber: tokobagus.com.
Ayam Pelung mulai dikenal masyarakat  Cianjur  sejak tahun 1850-an. Konon, ayam ini pertamakali dipelihara oleh seorang Kiai bernama H. Djarkasih alias Mama Acih (Alm).
Suatu hari beliau, yang tinggal desa Bunikasih, Kecamatan Warungkondang, menemukan seekor anak ayam jantan besar, tinggi dan “turundul” (berbulu jarang). H. Djarkasih kemudian memelihara anak ayam temuannya ini dengan baik hingga dewasa.
Ayam tersebut tumbuh dengan pesat dan berkokok dengan suara besar, panjang dan berirama. Orang-orang pada masa itu,  sangat kagum mendengar suara kokoknya yang mengalun indah. Ayam ini kemudian disebut ayam “Pelung”.
Sejak saat itu, masyarakat mulai membudidayakan dan melestarikan ayam Pelung ini.
Pelung Putih.jpg
Gambar 4. Pelung Putih. Sumber: majalahburungpas.com.
Ayam Pelung mempunyai ukuran tubuh sangat besar dan tegap. Kaki panjang dan kuat berwarna hitam kebiru-biruan. Pahanya berdaging tebal. Dada berdaging tebal dan menonjol ke depan.
Pejantan berjengger tunggal dengan ukuran pial sangat besar, tebal, tegak, bergerigi dan berwarna merah. Kepala dan leher juga berukuran sangat besar dibandingkan dengan proporsi tubuh.
Warna bulu ayam Pelung juga bervariasi seperti ayam Kampung kebanyakan. Namun sebagian besar pejantan dan betina memiliki warna kombinasi merah dan hitam. Variasi warna lainnya adalah kombinasi kuning-hitam, putih-hitam dan kuning kehijauan-hitam.
Seekor ayam Pelung betina mulai bertelur pada usia 160-210 hari dan dapat menghasilkan telur hingga 70 butir/tahun.
Pelung Hitam
Gambar 5. Pelung Hitam.
Bobot rata-rata pejantan Ayam Pelung sekitar 4-5 kg. Bahkan dimasa lalu dapat mencapai 6-7 kg. Sedangkan bobot rata-rata betina berkisar antara 3-4 kg.
Pertumbuhan yang sangat pesat dan bobot yang tinggi menyebabkan ayam Pelung menjadi kandidat yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi ayam pedaging.
Namun, harga jual ayam Pelung sebagai ayam hias atau ayam kontes jauh lebih tinggi, sehingga masyarakat lebih memilih untuk membudidayakan ayam ini demi suara kokok pejantannya yang indah.
IMG-20121103-00558
Gambar 6. Pelung Kuning-Hijau (Wido).
Kelebihan sifat genetik ayam pelung yang bertubuh besar dan tumbuh cepat dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ayam lokal lainnya.
Hal ini disadari oleh masyarakat Sukabumi yang menyilangkan ayam pelung jantan dengan ayam kampung agar bobot ayam kampung setempat meningkat.
Ayam hasil silangan Pelung dan ayam kampung memiliki daging yang lebih tebal pada bagian dada dan paha. Namun tekstur dan cita rasanya tidak berubah dan sama seperti daging ayam kampung pada umumnya sehingga cukup digemari konsumen. Oleh masyarakat Sukabumi, ayam silangan ini disebut ayam Nagrak.
Sumber: Sofjan Iskandar dan Triana Susanti (2007).

mengenal ayam olagan

Ayam Olagan
Ayam Olagan adalah ayam tanpa bulu yang berasal dari Pulau Dewata, Bali. Ayam ini berpotensi dimanfaatkan sebagai ayam penghasil telur dan daging (dwiguna). Ayam ini juga dapat dijadikan ayam koleksi dengan tujuan khusus karena keunikannya.
antarafoto-1276257305-
Gambar 2. Ayam Olagan. Sumber: Antara
Sebagian penduduk Bali mempercayai bahwa penganut ilmu hitam Leak tingkat tinggi, memiliki kemampuan untuk merubah bentuk menjadi berbagai jenis binatang. Salah satunya, ya, menjadi ayam Olagan ini. Hiii…..

mengenal ayam nunukan

Ayam Nunukan
Ayam Nunukan tersebar di daerah Tarakan, Propinsi Kalimantan Utara. Menurut sejarahnya ayam Nunukan berasal dari daratan Cina bagian selatan dan masuk ke Tarakan sekitar tahun 1922 yang dibawa oleh perantau Cina lewat Tawao dan Nunukan (Murtidjo, 2000).
Sepintas, penampilan ayam Nunukan seperti ayam ras petelur berwarna coklat. Jantan dan betina memiliki bulu berwarna coklat atau kuning kecoklatan.
Jengger untuk betina warna merah muda dan jantan merah tua, kulit betina warna krem muda dan jantan kuning, untuk warna shank baik betina maupun jantan berwarna kuning.
Ayam Nunukan-ditjennak.deptan.go.id
Gambar 1. Ayam Nunukan.
Cuping ayam betina merah muda dihiasi warna putih sedangkan untuk jantan merah tua. Pada jantan bulu di daerah leher dihiasi warna jingga keemasan. Pola warna bulu polos, kerlip bulu keemasan dan corak bulu polos.
Ciri ayam Nunukan yang paling unik adalah lambatnya pertumbuhan bulu di bagian sayap dan ekor. Hal ini menyebabkan bulu sayap dan bulu ekor ayam Nunukan sangat pendek. Sebagian besar ayam Nunukan bahkan sama sekali tidak memiliki bulu pertama di bagian sayap dan ekor.
Ayam Nunukan sangat potensial dikembangkan sebagai ayam pedaging dan petelur. Bobot jantan sekitar 1,7 -2,8 kg. Sedangkan betina 1,5- 2 kg. Produksi telur dapat mencapai 182 butir/tahun.
Di daerah asalnya KalimantanTimur, harga seekor ayam Nunukan untuk upacara keagamaan etnis China cukup mahal, yaitu 125 ribu rupiah/kg berat hidup. Harga telur ayam Nunukan pun, sama dengan harga telur ayam Kampung. Sumber: Wafiatiningsih, Imam Sulistyono dan Ratna Ayu Saptati (2007).

mengenal ayam merawang

Ayam Merawang
Ayam Merawang berasal dari Kecamatan Merawang di Pulau Bangka, Propinsi Bangka Belitung.
Ayam ini didominasi warna cokelat, merah dan kuning keemasan, dengan bulu-bulu columbian (warna bagian ujung sayap dan ekor berwarna hitam). Warna kulit paruh dan ceker (shank) putih atau kekuningan, sedangkan warna mata kuning.
Sepasang Ayam Merawang
Gambar 10. Sepasang Ayam Merawang.
Ayam Merawang diduga pertama kali dibawa oleh imigran asal China daratan yang bekerja sebagai penambang timah pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sepintas, bentuk ayam Merawang yang bertumbuh gempal ini mirip dengan ayam Lingnan dari China.
Beberapa ciri ayam Merawang diantaranya adalah Jengger jantan berbentuk wilah tunggal (single comb) berukuran besar, tegak, terbagi menjadi 6-7 gerigi yang meruncing . Bobot badan dewasa jantan sekitar 1,8─2,7 kg dan betinanya sekitar 1,2─1,7 kg.
Ayam Merawang dan Lingnan
Gambar 11. Ayam Lingnan dari China (kiri) dan Ayam Merawang asal Pulau Bangka (kanan).
Ayam Merawang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ayam petelur dan terutama sebagai ayam pedaging. Bila dipelihara secara intensif pertumbuhannya relatif cepat. Ayam Merawang betina bertelur pertama kali pada umur 5,5 bulan. Bobot telur  berkisar antara 38─45 g. produksi telur dapat mencapai 120─125 butir/ekor/tahun.

mengenal ayam ketawa

Ayam Ketawa
Ayam Ketawa adalah strain ayam hias lokal yang tersebar di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawesi Selatan. Konon kabarnya, dahulu kala ayam jenis ini merupakan satwa peliharaan kesayangan raja-raja Sidenreng dan Rappang.
Ayam Ketawa bukan hanya sebagai unggas peliharaan semata, akan tetapi dipercaya pula memiliki indera khusus untuk mengetahui akan ada kejadian berupa banjir, kebakaran dan bencana alam di kerajaan tersebut. Selain sebagai unggas kesayangan raja, ayam ini juga sering diperlombakan oleh para bangsawan di kedua kerajaan tersebut.
Ayam Ketawa-1-dody94.wordpress.com
Gambar 7. Ayam Ketawa tipe bulu Koro'(kiri) dan Bakka’ (kanan).
Ciri-ciri ayam ketawa tidak berbeda jauh dengan ayam kampung. Jengger ayam ini umumnya berpial tunggal (single comb) dengan warna bulu yang sangat bervariasi. Keistimewaan ayam ini baru akan terlihat saat mengeluarkan suara kokok yang terpenggal-penggal mirip orang gagap atau orang tertawa.
Di daerah asalnya, ayam ini disebut Manuk Gaga’. Manuk berarti ayam dalam bahasa Bugis dan gaga’ berarti Gagap. Sebagian orang meyakini suara ayam ini mirip dengan suara ayam Kukuak Balenggek dari Sumatera Barat.
Ayam Ketawa-2-dody94.wordpress.com
Gambar 8. Ayam Ketawa tipe bulu Kelleng (kiri) dan Ara (kanan).
Penamaan ayam ketawa itu sendiri tercetus setelah komunitas pencinta unggas asal pulau Jawa menamainya dengan sebutan ayam ketawa. Ayam ini menjadi begitu populer setelah disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional.
Berdasarkan jenis suaranya, hobiis membagi ayam ketawa ke dalam 3 kategori :
  1. Jenis ayam Garetek : Dinamai seperti itu karena jenis ini memiliki interval suara yang agak cepat, yang masyarakat pencinta ayam memakai istilah jenis dangdut.
  2. Jenis ayam Gaga’ : Dinamai seperti itu karena tempo suaranya yang agak lambat dan seperti orang yang gagap. Biasanya disebut pula dengan tempo pop slow.
  3. Jenis ayam Do’do : Dinamai seperti itu karena tempo suaranya yang sangat lambat dan mendayu-dayu.
Ayam Ketawa-3-dody94.wordpress.com
Gambar 9. Ayam Ketawa tipe bulu Lappung (kiri) dan Ceppaga (kanan).
Selain suara, warna bulu juga menjadi salah satu kriteria bagus tidaknya kualitas ayam ketawa. Beberapa kategori warna bulu yang menjadi standar bagi hobiis, yaitu:
  1. Bulu Bakka : warna dasar bulu berwarna putih mengkilap, biasanya ada beberapa warna lain yang tak dominan seperti hitam, merah maupun jingga. Warna bulu ini disebut sebagai bulu kelas satu karena banyaknya orang yang menggemari.
  2. Bulu Lappung : Warna dasar bulu berwarna hitam kombinasi dengan warna merah hati.
  3. Bulu Ceppaga : Warna dasar hitam kombinasi dengan warna putih.
  4. Bulu Koro: warna dasar hitam kombinasi hijau dan warna putih dan kuning mengkilap.
  5. Bulu Ara: warna dasar hitam kombinasi warna jingga terang dan merah.
  6. Bulu Ijo buata : warna dasar ijo kombinasi merah dan hitam sedikit.
  7. Bulu Bori: warna dasar merah dan warna bintik-bintik kuning mengkilap.
  8. Bulu Kelleng  : warna dasar abu-abu, biasa di selingi dengan warna lain yang tak dominan seperi merah, hitam maupun jingga. Warna ini tergolong sebagai kelas yang paling rendah.

mengenal ayam kedu

Ayam Kedu
Ayam Kedu adalah strain ayam lokal berukuran cukup besar yang berkembang di daerah Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Ayam ini memiliki banyak variasi warna bulu, yaitu: Cemani, Kedu hitam, Kedu Merah, Kedu Putih dan Kedu Blorok. Bobot ayam jantan dapat mencapai 3-3,5 kg. Sedangkan betina 1,2-2,5 kg. Jengger besar dan selalu berpial tunggal (single comb).
Cemani Jantann
Gambar 4. Ayam Kedu Cemani. Sumber: kisuta.com.
Cemani merupakan satu-satunya varietas ayam di dunia yang memiliki warna hitam sempurna. Akibat ekspresi fenotip dari gen unik yang dimiliki menyebabkan ayam ini berwarna hitam legam nyaris di seluruh bagian tubuhnya.
Oleh karenanya, ayam Cemani memiliki harga pasaran yang tinggi dan berpotensi dibudidayakan sebagai ayam hias. Daging ayam Cemani yang berwarna hitam cenderung kurang diminati oleh konsumen sehingga ayam ini tidak cocok dijadikan ayam pedaging.
kedu putih-1
Gambar 5. Ayam Kedu Putih. Sumber: pemkabtemanggung.go.id.
Selain Cemani juga terdapat varian Kedu hitam. Ayam ini memiliki jengger berwarna merah dan kaki berwarna hitam kekuningan. Varian lain seperti Kedu Putih, Kedu merah dan Blorok memiliki ciri fisik yang sama dengan Kedu hitam. Perbedaan hanya terdapat pada warna bulunya.
Kedu Hitam-1
Gambar 6. Ayam Kedu Hitam. Sumber: pemkabtemanggung.go.id.
Ayam Kedu sangat potensial dikembangkan sebagai ayam petelur dan pedaging (dwiguna). Jika dipelihara secara intensif, dalam umur 5 bulan ayam Kedu jantan dapat mencapai bobot 1,3-1,4 kg. Sedangkan ayam betina mencapai bobot 1,2-1,3 kg. Produksi telur pun cukup tinggi mencapai 215 butir/tahun. Hasil ini hanya sedikit di bawah rata-rata ayam ras petelur yang mencapai 259 butir/tahun.

mengenal ayam kampung

Ayam Kampung
Ayam Kampung adalah ayam lokal yang paling dikenal masyarakat Indonesia dan tersebar luas di seluruh pelosok Nusantara. Ayam ini banyak dipelihara secara tradisional di perdesaan. Ayam kampung memiliki warna bulu yang sangat bervariasi.
Bentuk dan ukurannya pun bermacam-macam. Beragamnya karakter ayam kampung ini disebabkan karena proses perkawinan berlangsung secara alami tanpa pengawasan pemelihara.
Menurut Sumanto et al. (1990),  ayam kampung banyak dipelihara karena relatif mudah, tidak memerlukan modal besar serta berperan dalam memanfaatkan sisa-sisa buangan dapur maupun sisa-sisa hasil pertanian. Berbeda dengan ayam ras, ayam kampung  termasuk tipe dwiguna yang tidak dibedakan berdasarkan tipe pedaging atau petelur.
buras epetani.deptan.go.id
Gambar 3. Ayam Kampung. Sumber: deptan.go.id.
Budidaya ayam kampung biasanya dilakukan secara sederhana dengan melepas unggas di sekitar halaman dan permukiman (ekstensif). Hal ini menyebabkan produksi telur dan daging ayam kampung jauh lebih rendah dibandingkan dengan ayam ras petelur dan pedaging.
Meskipun produktifitasnya relatif rendah, daging dan telur ayam kampung sangat digemari oleh konsumen di Indonesia. Daging ayam kampung memiliki cita rasa yang gurih dan enak, tekstur lebih kenyal dan tidak mudah hancur saat di masak dalam waktu yang lama. Telur ayam kampung pun dinilai lebih banyak mengandung gizi dan khasiat sehingga harganya lebih mahal dibandingkan telur ayam ras.
Pemeliharaan secara intensif dapat menghasilkan ayam Kampung yang mempunyai rataan bobot badan jantan 1.815 ± 353 g dan betina 1.382 ± 290 g (Mulyono dan Pangestu, 1996). Sumanto et al. (1990) menyatakan bahwa perbaikan tatalaksana ayam Kampung menghasilkan bobot badan umur lima bulan meningkat dari 625 g menjadi 677 g.
Frekuensi bertelur dari tiga kali/tahun meningkat menjadi lima kali/tahun, menurunkan mortalitas dari 51% menjadi 34% dan waktu bertelur setelah mengeram dari rata-rata 70 hari turun menjadi 20 hari.
Sinurat et al. (!992) juga menyatakan bahwa umur pertama bertelur pada ayam Kampung 7,5 bulan, produksi telur   80,3 butir/induk/tahun, frekuensi bertelur 7,5 kali/tahun dan daya tetas telur 83,7% pada pemeliharaan secara intensif.
Hasil pembibitan open nucleus yang dilakukan di Balai Penelitian Ternak Ciawi, ayam Kampung berproduksi telur selama 12 minggu sebesar 43,24% hen day, jumlah telur 36,32 butir/ekor/12 minggu, bobot telur 30 g/butir dan rataan bobot telur selama 12 minggu sebesar 40 g/butir (Zainuddin et al., 2005).
Seleksi indukan yang memiliki sifat-sifat unggul dan pemeliharaan secara intensif  ternyata dapat meningkatkan produktifitas ayam kampung. Ayam kampung yang telah diseleksi dan dipelihara secara intensif ini biasanya disebut ayam Buras (bukan ras).